KENALI APA YANG KITA MILIKI BERSAMA


Desaku yang katanya bersejrah ini tentunya punya cerita, punya orang-orang hebat yang tinggal didalamnya, dan juga punya kekayaan yang tersembunyi. aku yang hidup di zaman yang disebut zaman milenial dan generasi yang katanya dipenuhi generasi micin juga tidak tau banyak tentang kekayaan tesebut. mataku seakan tertutup bahkan buta akan hal tersebut. hingga pada akhirnya karna sebuah mata kuliah, perjalan ini dimulai. perjalanan untuk menggali kekayaan tersembunyi yang diam-diam memberontak untuk dikenali dan dipelajari.

*naskah kawi

Teros punya cerita. aku yang hanya mengenal desaku soal mata air Memontong dan alun-alun Bunutnya cukup dibuat penasaran dengan hal yang katanya ada di sekitarku. Guru Muhir atau yang lebih dikenal sebagai Amaq Pupu, seorang budayawan, penyiar, dan seorang penggiat naskah kuno yang entah sejak kapan sudah diam-diam menjaga warisan budaya leluhur  mempelajari serta membudayakannya. Serperti kata pepatah "Gajah di pelupuk mata tak tampaksemut di seberang lautan tampak" begitulah kira-kira keadaanku  yang mengetahui beberapa tempat di Luar desaku sebagai tempat yang menyimpan banyak naskah kuno dan pusaka lainnya yang ternyata di sekitar kediamannku yang hanya berbataskan tembok saja, tidak pernah ku ketahui sudah menyimpan begitu banyak kekayaan budaya terutama kebudayaan naskah kuno yang ditulis di daun lontar dan dipahat oleh tangan-tangan lihai para leluhur dengan sebuah Maja.
*naskah Arab Melayu

Putri Rengganis, Hana Kidung, Cilinaya, Puspa Kerma, Moayeh, Indar jaya, Serat menak, Khamaruzzaman, Khaspul Ghaibah, Amir Hamzah, Kisasul Ambiak, dan masih banyak lagi naskah kuno lainnya terimpan di meja milik Amaq Pupu bersanding dengan buku fikih lainnya. Bagi beliau memiliki naskah kuno bukan sekedar menyimpan suatu pusaka melainnkan juga menjaga warisan budaya nenek moyang. Tidak hanya naskah berbahasa kawi yang Amaq Pupu miliki melainkan juga, beliau menyimpan naskah kuno yang ditulis dengan huruf arab melayu. Saat melihat-lihat koleksi beliau saya sedikit bertanya tanya sejak kapan naskah-naskah yang beliau miliki dibuat? Saya juga melihat bahwa dua jenis naskah yang beliau miliki terdapat perbedaan yaitu pada media tulis. Kalau Naskah kuno kawi ditulis di atas lontar maka lain halnya dengan naskah kuno Arab Melayu yang ditulis di atas kertas bertuliskan tinta hitam

*Narasumber Amaq Pupu

Pada awalnya saya hanya  tau bahwa beliau  suka terhadap hal-hal yang berbau seni tradisional. Pada hari-hari tertentu selepas isya beliau sering melantunkan tembang yang kadang membuat saya terhenti sebentar dari aktifitas saya untuk mendengar lebih jelas tembang yang Amaq Pupu lantunkan karna menurut saya hal tersebut sedikit menakutkan. Sungguh apa yang telah aku temukan di rumahnya serta tuturan beliau rasanya seperti menemukan potongan teka-teki yang rumit. Merupakan pengalaman yang  baik untuk mengenal sesuatu yang ada di sekitar kita. Seperti Indar jaya  yang keluar istana untuk mencari ilmu, sepertinya saya juga harus mulai bergegas untuk keluar dari zona nyaman untuk kembali peduli tehadap hal-hal kebudayaan yang yang saya dan kita miliki bersama.


sekian:)

Komentar

  1. indaaaahh semangaaaatt bisa membuat yg seperti ini lagi dengan cerita yg indah lagi

    BalasHapus
  2. Bagus banget. Semakin tau tentang budaya.

    BalasHapus

Posting Komentar